Rabu, 26 November 2014

Provokator.

Provokator otak perusak...
Negara sakit di buat sekarat...
Anehnya malah di beri wewenang menjabat...

Kapan negeri ini sembuh tanpa luka..??!!!

Media berkicau tanpa fakta...
Ungkap sana sini sesuka...
Akh sudahlah, adat bangsa mungkin begini adanya...

Masyarakat di jejali bangkai lagi...
Tapi bangkai di lumuri sambal kecap dan rempah sedap...
Di sulap jadi hidangan sate cita rasa nikmat...

Sebagian lahap menyantap,
sebagian keras menolak...

Provokator otak perusak...
Musnahkan saja tanpa jejak...

Jika tidak,
Indonesia sekarat akan di buat bangkai kelak...

Jakarta, 26 november 2014
Penulis: Andria tama (crb komandan kodok)

Jarum Jam.

Jarum jam bergerak memutar...
Dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah...
Terus terulang setiap harinya...

Dentingnya terdengar berbisik kala malam berpijak...
Nada menenangkan dalam sunyi...

Tempo yang tak berubah, atau memang tak kan pernah berubah,
Mengiringi hari yang selalu bergulir sama...

Dalam hening, sunyi, dan gelap ruang...
Aku masih menikmati suara denting lembut mengalun...
Begitu damai,
begitu tenang...

Dan ketika battrenya habis,
denting pun berhenti bernyanyi...
Membuat ku tersadar,
bahwa kehidupan...,
tak selamanya berputar....


Jakarta, 26 november 2014
Penulis: Andria tama (crb komandan kodok)

Selasa, 25 November 2014

Sekarang aku mengerti..., GURU.

Pagi itu di ruang yang sama..
Aku masih mengingat riwayat yang tertinggal di sana..

Tempat itu...
Jendela, dinding, daun pintu, juga papan tulis yang berdebu..
Suasana akrab bagiku..

Meja angkuh yang berdiri paling depan,
memimpin puluhan meja lainnya, berbaris rapi mengikuti..

Itu adalah meja seseorang yang menyebalkan untuk ku..
Orang yang membosankan..
Pelajaran dan pelajaran, pemberi perintah ini itu dan sebagainya..
Terkadang juga menghukum ku..
Karna tak mengerjakan tugas, datang terlambat atau bermain saat jam belajar..
Benar-benar menyebalkan..

Ya..., itu adalah meja mu, GURU..

Sejak itu aku coba menjauh..
Menempatkan diriku pada meja terakhir yang berdiri di sudut ruang..

Agar aku bebas..
Agar aku tak terkurung oleh ingin mu..
Tetapi tetap saja aku bisa melihat mu menempati meja angkuh itu..
Tetapi tetap saja aku bisa mendengar suara mu lantang memecah pendengaran ku..

Ini menyiksa..
Tapi aku tak ingin berhenti di sini..
Ada senyuman kedua orang tua yang harus aku lindungi..
Akan ku tahan semua sampai tiba hari kelulusan..
Semua hal yang menyebalkan darimu..., GURU..

Dan hari itu pun tiba..
Setelah ini, aku tidak lagi bertemu dengan mu..., GURU..
Aku senang..

Hari-hari berlalu setelah itu..
Kesuksesan hinggap dalam hidupku..

Aku bisa membangun rumah untuk kedua orang tua..
Meski sederhana dan tak mewah, tapi itu cukup membuat senyum keduanya merekah..
Aku juga bisa mencukupi keperluan hidupku sendiri..
Tak perlu ngutang sana ngutang sini, hanya sekedar untuk bisa makan esok pagi..

Dan kemarin aku menghadiri Reuni sekolah..
Aku melihat mu tersenyum menyapa,
menanyakan keadaan lalu memberikan selamat atas kesuksesan ku..
Ak bisa merasakan betapa tulusnya senyuman itu..
Hal yang tak pernah aku berikan untuk mu..., GURU..

GURU..., Apa kau tau?
Senyuman mu itu seperti menampar ku..
Menyadarkan kebodohan ku menilai mu..

Dan sekarang aku mengerti..., GURU..

Ingin mu sederhana,
hanya ingin melihat ku dan murid-murid mu yang lain tersenyum meraih cita-cita..
Walau terkadang kau harus menanggung kebencian dari beberapa murid yang tak menyukai mu..

Bahasa inggris, bahasa indonesia, matematika dan pelajaran lainnya..
Tanpa mu, aku hanya almamater buta..
Dan kesuksesan yang ada, hanyalah mimpi semata..

Terimakasih atas usaha mu yang tak pernah menyerah untuk menjangkau ku, ketika aku mencoba menjauh..
Terimakasih tetap tersenyum untuk ku, meski aku tak pernah membagi hal yang sama kepada mu..

Ilmu adalah Cahaya..
Terimakasih telah memberikan Cahaya itu dalam hidup ku..

Andai saja dulu, aku bisa melihat mu dari sudut pandang yang berbeda,
dari sisi yang lebih baik..

Maafkan aku yang buruk menilai mu..
Maafkan aku yang hanya mengunjungi mu ketika acara Reuni ada..
Dan maafkan aku yang tak bisa membalas semua jasa-jasa mu..

Tak peduli seberapa nakalnya murid-murid mu..
Tak peduli seberapa tak sukanya mereka terhadap mu..
Kau tetap menjangkau mereka..
Kau tetap membagi cahaya mu untuk mereka..
Dan kau tetap tersenyum kepada mereka..

Bahkan ketika pemerintah Negara mengacuhkan kesejahteraan hidupmu pun,
kau tetap melakukan hal yang sama..

Kau percaya,
ketika murid-murid mu berhasil dan tersenyum meraih kesuksesan mereka kelak,
itu adalah kebahagiaan juga kebanggaan bagi dirimu.

Apa yang kau berikan dan apa yang telah kau lakukan membuat aku mengerti arti seorang GURU..

"Pahlawan Tanpa Tanda Jasa".
Ya..., penghargaan itu memang pantas di berikan untuk mu..

Dan GURU..
Tulisan ini hanyalah ungkapan sederhana yang ku buat untuk mu..
Sebagai tanda..., TERIMAKASIH KU...


Jakarta, 25 november 2014
Penulis: Andria tama (crb komandan kodok)

Minggu, 23 November 2014

Galau level 3.

Hidup ku Galau sekali...

Pengangguran kronis dari tadi pagi...
Uang tak ada,, dunia mencaci...

Mau makan cuma ada Nasi sama sambal terasi...
Tak apalah,, yg penting bisa makan agar tak mati...

Tittle Jomblo terpajang sejak Bayi...
Semoga saja tak sampai aki-aki...
(AMIN Ya Allah)

Naksir sama cewe yang doyannya naik Lamborgini...
Yaudah deh aku nyerah,,
Hidup ku aja masih kaya gini...

Tapi akhirnya Galau ku terhenti...
Berganti Bahagia di depan menanti...

Setelah aku menemukan pendamping sejati...
Calon istri yang cantik jelita dan bohai Sekali...
Juga baik hati...
(ALHAMDULILLAH)

Tapi sayang,,
seperti tersambar petir di siang hari...
(astagfirullohal'azim,, jangan sampe dah)

Bahagia ku pun musnah..!!!
Mimpi ku pun sirnah...!!!

Setelah aku mengetahui...
Bahwa calon istri ku itu,,
dulunya adalah LELAKI...!!!

Dan aku pun Galau lagi... U,u'


Jakarta, 23 november 2014
Penulis: Andria tama (crb komandan kodok)

Sabtu, 22 November 2014

Kejujuran.

Ketika hati bernyanyi gembira...
Ketika pikiran tak sesak kerikil cadas bebatuan semesta...

Laut terlihat tenang,,
Gunung berpangku mengepang riak awan...

Saat itu Pena ku mengerti arti kejujuran...
Mulai menari menoreh tinta Hitam...

Lihat...!!!
Kertas putih ku tak lagi selebaran tanpa nyawa...

Karna ada Riwayat bisu yang terpahat di sana...

Jakarta, 23 november 2014
Penulis: Andria tama (crb komandan kodok)

Rabu, 19 November 2014

Tetaplah menjadi orang Bodoh.

Selagi sayap mu belum tumbuh...
Pagi ini pun akan tetap sama...
Orang-orang akan menganggap mu tak ada...

Entah di dunia nyata ataupun di dunia maya...
Entah dia mengenal mu ataupun tidak...

Kau hanya sebuah Nama tak berwujud...
Ya,, di hadapan mereka...

Sudah ku bilang jangan menyapa mereka...!!!

Karna itu hanya akan membuat mu semakin tau bagaimana mengerikannya rasa Kesepian...

Entah bodoh,, tolol atau dungu...
Kau tetap saja melakukannya...

Kesendirian telah mengajarkan mu akan banyak hal...

Kau melihat dunia tapi dunia tidak melihat mu,,
hahahahaha,, itu memang hal yang menyebalkan...

Tapi bersyukurlah...
Karna tau penderitaan seperti itu,,
kau akan belajar untuk tidak melakukan hal yang sama kepada orang lain...

Tetaplah jadi dirimu yang bodoh, tolol dan dungu...
Tetap sapa mereka...
Tetap tersenyum kepada mereka...

Bahkan sampai Sayap mu tumbuh nanti...
Tetaplah melakukan hal yang sama...

Karna dirimu yang seperti itu,,
aku menyukainya...


Jakarta, 20 november 2014
Penulis: Andria tama (crb komandan kodok)

Minggu, 09 November 2014

Untuk Darah yang Terlupakan.

Kalian hentikan bisingnya jet tempur yang bernyanyi angkuh di atas langit kami...
Kalian hentikan senapan kokang milik serdadu yang celotehnya memaki...

Meski barisan peluru liar mencabik-cabik tubuh kalian yang kering...
Meski nyawa kalian menjadi tak lebih berharga dari roti dan selai keju hidangan sarapan pagi kami...

Tetapi kalian tetap berdiri...
Mengangkat bendera merah putih agar tak mati...
Tetapi kalian tetap berjuang...
Busungkan dada demi senyuman putra putri bangsa di masa depan...

Bambu runcing bukanlah senjata utama...
Semangat dan mimpi-mimpi kalianlah penopang segalanya...

Kami adalah putra putri bangsa ini...
Yang senyumannya ada karna penderitaan kalian yang pedih...
Kami adalah putra putri bangsa ini...
Yang kebebasannya terlahir dari tubuh kalian yang terkoyak mati...

Dan Kalian adalah Pahlawan bangsa ini...
Karna kalianlah kami hirup udara segar negeri ini...

Maafkan kami yang tak tau bagaimana caranya berterimakasih...
Maafkan kami yang tumbuh menjadi penjajah bagi negeri kami sendiri...
Maafkan kami yang hanya mengenang kalian setahun sekali...
Maafkan kami juga yang selalu melewatkan kalian dari Doa yang kami ucapkan setiap hari...

Terimakasih telah mengajarkan kami tentang Bhineka Tunggal Ika...
Terimakasih telah mengajarkan kami mencintai negeri ini...
Terimakasih telah mengajarkan kami arti berkorban demi orang-orang yang dicintai...
Terimakasih telah mengukir senyuman kami sampai hari ini...

Kalianlah Darah yang terlupakan dari ingatan kami...
Tapi tidak dari tanah negeri ini...

Dan sekarang,,
Dengarlah teriakan lantang kami,,
Putra dan Putri dari negeri ini...

Kami bangga menjadi Rakyat Indonesia...!!!
Di negeri inilah kami dilahirkan,,
Dan di negeri inilah tempat kami nanti akan berpulang,,
Dengan,, atau tanpa Nama...

Terimakasih Pahlawan Bangsa...
Terimakasih Darah yang terlupakan...
Tugas kalian telah usai...

Beristirahatlah dengan tenang,,
Dalam haribaan Tuhan yang paling indah...

Salam hormat kami,,
Putra dan Putri Indonesia...

Jakarta, 10 november 2014
Penulis: Andria tama (crb komandan kodok)