Kamis, 04 Desember 2014

Kelakuan.

Di hadapan mata ku yang remang,
menunggu di seberang jalan...
Teman dengan mata merah mengintai,
wajah berubah menyeringai...

Di sebuah kios tak berpenjaga,
barang-barang berubah menggoda...

Akh sudahlah, ambil satu tak mengapa...
Satu kurang..??
Ambil saja tiga...

Ku lihat teman pergi,
tanpa membayar barang yang di beli...
Aku tersontak ngeri,
barang sepuluh ribuan menambah keruh hati...

Mengapa Harus MENCURI...??!!!

Tawa Setan bergemuruh riang,
merayakan kelakuan menyenangkan...
Teman ku baru saja meninabobokkan keimanan...!!!

Diantara bising suara kendaraan yang berlalu lalang...
Aku hanya bisa terdiam menyaksikan... U,u'


Jakarta, 5 desember 2014
Penulis: Andria tama (crb komandan kodok)

Rabu, 26 November 2014

Provokator.

Provokator otak perusak...
Negara sakit di buat sekarat...
Anehnya malah di beri wewenang menjabat...

Kapan negeri ini sembuh tanpa luka..??!!!

Media berkicau tanpa fakta...
Ungkap sana sini sesuka...
Akh sudahlah, adat bangsa mungkin begini adanya...

Masyarakat di jejali bangkai lagi...
Tapi bangkai di lumuri sambal kecap dan rempah sedap...
Di sulap jadi hidangan sate cita rasa nikmat...

Sebagian lahap menyantap,
sebagian keras menolak...

Provokator otak perusak...
Musnahkan saja tanpa jejak...

Jika tidak,
Indonesia sekarat akan di buat bangkai kelak...

Jakarta, 26 november 2014
Penulis: Andria tama (crb komandan kodok)

Jarum Jam.

Jarum jam bergerak memutar...
Dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah...
Terus terulang setiap harinya...

Dentingnya terdengar berbisik kala malam berpijak...
Nada menenangkan dalam sunyi...

Tempo yang tak berubah, atau memang tak kan pernah berubah,
Mengiringi hari yang selalu bergulir sama...

Dalam hening, sunyi, dan gelap ruang...
Aku masih menikmati suara denting lembut mengalun...
Begitu damai,
begitu tenang...

Dan ketika battrenya habis,
denting pun berhenti bernyanyi...
Membuat ku tersadar,
bahwa kehidupan...,
tak selamanya berputar....


Jakarta, 26 november 2014
Penulis: Andria tama (crb komandan kodok)

Selasa, 25 November 2014

Sekarang aku mengerti..., GURU.

Pagi itu di ruang yang sama..
Aku masih mengingat riwayat yang tertinggal di sana..

Tempat itu...
Jendela, dinding, daun pintu, juga papan tulis yang berdebu..
Suasana akrab bagiku..

Meja angkuh yang berdiri paling depan,
memimpin puluhan meja lainnya, berbaris rapi mengikuti..

Itu adalah meja seseorang yang menyebalkan untuk ku..
Orang yang membosankan..
Pelajaran dan pelajaran, pemberi perintah ini itu dan sebagainya..
Terkadang juga menghukum ku..
Karna tak mengerjakan tugas, datang terlambat atau bermain saat jam belajar..
Benar-benar menyebalkan..

Ya..., itu adalah meja mu, GURU..

Sejak itu aku coba menjauh..
Menempatkan diriku pada meja terakhir yang berdiri di sudut ruang..

Agar aku bebas..
Agar aku tak terkurung oleh ingin mu..
Tetapi tetap saja aku bisa melihat mu menempati meja angkuh itu..
Tetapi tetap saja aku bisa mendengar suara mu lantang memecah pendengaran ku..

Ini menyiksa..
Tapi aku tak ingin berhenti di sini..
Ada senyuman kedua orang tua yang harus aku lindungi..
Akan ku tahan semua sampai tiba hari kelulusan..
Semua hal yang menyebalkan darimu..., GURU..

Dan hari itu pun tiba..
Setelah ini, aku tidak lagi bertemu dengan mu..., GURU..
Aku senang..

Hari-hari berlalu setelah itu..
Kesuksesan hinggap dalam hidupku..

Aku bisa membangun rumah untuk kedua orang tua..
Meski sederhana dan tak mewah, tapi itu cukup membuat senyum keduanya merekah..
Aku juga bisa mencukupi keperluan hidupku sendiri..
Tak perlu ngutang sana ngutang sini, hanya sekedar untuk bisa makan esok pagi..

Dan kemarin aku menghadiri Reuni sekolah..
Aku melihat mu tersenyum menyapa,
menanyakan keadaan lalu memberikan selamat atas kesuksesan ku..
Ak bisa merasakan betapa tulusnya senyuman itu..
Hal yang tak pernah aku berikan untuk mu..., GURU..

GURU..., Apa kau tau?
Senyuman mu itu seperti menampar ku..
Menyadarkan kebodohan ku menilai mu..

Dan sekarang aku mengerti..., GURU..

Ingin mu sederhana,
hanya ingin melihat ku dan murid-murid mu yang lain tersenyum meraih cita-cita..
Walau terkadang kau harus menanggung kebencian dari beberapa murid yang tak menyukai mu..

Bahasa inggris, bahasa indonesia, matematika dan pelajaran lainnya..
Tanpa mu, aku hanya almamater buta..
Dan kesuksesan yang ada, hanyalah mimpi semata..

Terimakasih atas usaha mu yang tak pernah menyerah untuk menjangkau ku, ketika aku mencoba menjauh..
Terimakasih tetap tersenyum untuk ku, meski aku tak pernah membagi hal yang sama kepada mu..

Ilmu adalah Cahaya..
Terimakasih telah memberikan Cahaya itu dalam hidup ku..

Andai saja dulu, aku bisa melihat mu dari sudut pandang yang berbeda,
dari sisi yang lebih baik..

Maafkan aku yang buruk menilai mu..
Maafkan aku yang hanya mengunjungi mu ketika acara Reuni ada..
Dan maafkan aku yang tak bisa membalas semua jasa-jasa mu..

Tak peduli seberapa nakalnya murid-murid mu..
Tak peduli seberapa tak sukanya mereka terhadap mu..
Kau tetap menjangkau mereka..
Kau tetap membagi cahaya mu untuk mereka..
Dan kau tetap tersenyum kepada mereka..

Bahkan ketika pemerintah Negara mengacuhkan kesejahteraan hidupmu pun,
kau tetap melakukan hal yang sama..

Kau percaya,
ketika murid-murid mu berhasil dan tersenyum meraih kesuksesan mereka kelak,
itu adalah kebahagiaan juga kebanggaan bagi dirimu.

Apa yang kau berikan dan apa yang telah kau lakukan membuat aku mengerti arti seorang GURU..

"Pahlawan Tanpa Tanda Jasa".
Ya..., penghargaan itu memang pantas di berikan untuk mu..

Dan GURU..
Tulisan ini hanyalah ungkapan sederhana yang ku buat untuk mu..
Sebagai tanda..., TERIMAKASIH KU...


Jakarta, 25 november 2014
Penulis: Andria tama (crb komandan kodok)

Minggu, 23 November 2014

Galau level 3.

Hidup ku Galau sekali...

Pengangguran kronis dari tadi pagi...
Uang tak ada,, dunia mencaci...

Mau makan cuma ada Nasi sama sambal terasi...
Tak apalah,, yg penting bisa makan agar tak mati...

Tittle Jomblo terpajang sejak Bayi...
Semoga saja tak sampai aki-aki...
(AMIN Ya Allah)

Naksir sama cewe yang doyannya naik Lamborgini...
Yaudah deh aku nyerah,,
Hidup ku aja masih kaya gini...

Tapi akhirnya Galau ku terhenti...
Berganti Bahagia di depan menanti...

Setelah aku menemukan pendamping sejati...
Calon istri yang cantik jelita dan bohai Sekali...
Juga baik hati...
(ALHAMDULILLAH)

Tapi sayang,,
seperti tersambar petir di siang hari...
(astagfirullohal'azim,, jangan sampe dah)

Bahagia ku pun musnah..!!!
Mimpi ku pun sirnah...!!!

Setelah aku mengetahui...
Bahwa calon istri ku itu,,
dulunya adalah LELAKI...!!!

Dan aku pun Galau lagi... U,u'


Jakarta, 23 november 2014
Penulis: Andria tama (crb komandan kodok)

Sabtu, 22 November 2014

Kejujuran.

Ketika hati bernyanyi gembira...
Ketika pikiran tak sesak kerikil cadas bebatuan semesta...

Laut terlihat tenang,,
Gunung berpangku mengepang riak awan...

Saat itu Pena ku mengerti arti kejujuran...
Mulai menari menoreh tinta Hitam...

Lihat...!!!
Kertas putih ku tak lagi selebaran tanpa nyawa...

Karna ada Riwayat bisu yang terpahat di sana...

Jakarta, 23 november 2014
Penulis: Andria tama (crb komandan kodok)

Rabu, 19 November 2014

Tetaplah menjadi orang Bodoh.

Selagi sayap mu belum tumbuh...
Pagi ini pun akan tetap sama...
Orang-orang akan menganggap mu tak ada...

Entah di dunia nyata ataupun di dunia maya...
Entah dia mengenal mu ataupun tidak...

Kau hanya sebuah Nama tak berwujud...
Ya,, di hadapan mereka...

Sudah ku bilang jangan menyapa mereka...!!!

Karna itu hanya akan membuat mu semakin tau bagaimana mengerikannya rasa Kesepian...

Entah bodoh,, tolol atau dungu...
Kau tetap saja melakukannya...

Kesendirian telah mengajarkan mu akan banyak hal...

Kau melihat dunia tapi dunia tidak melihat mu,,
hahahahaha,, itu memang hal yang menyebalkan...

Tapi bersyukurlah...
Karna tau penderitaan seperti itu,,
kau akan belajar untuk tidak melakukan hal yang sama kepada orang lain...

Tetaplah jadi dirimu yang bodoh, tolol dan dungu...
Tetap sapa mereka...
Tetap tersenyum kepada mereka...

Bahkan sampai Sayap mu tumbuh nanti...
Tetaplah melakukan hal yang sama...

Karna dirimu yang seperti itu,,
aku menyukainya...


Jakarta, 20 november 2014
Penulis: Andria tama (crb komandan kodok)

Minggu, 09 November 2014

Untuk Darah yang Terlupakan.

Kalian hentikan bisingnya jet tempur yang bernyanyi angkuh di atas langit kami...
Kalian hentikan senapan kokang milik serdadu yang celotehnya memaki...

Meski barisan peluru liar mencabik-cabik tubuh kalian yang kering...
Meski nyawa kalian menjadi tak lebih berharga dari roti dan selai keju hidangan sarapan pagi kami...

Tetapi kalian tetap berdiri...
Mengangkat bendera merah putih agar tak mati...
Tetapi kalian tetap berjuang...
Busungkan dada demi senyuman putra putri bangsa di masa depan...

Bambu runcing bukanlah senjata utama...
Semangat dan mimpi-mimpi kalianlah penopang segalanya...

Kami adalah putra putri bangsa ini...
Yang senyumannya ada karna penderitaan kalian yang pedih...
Kami adalah putra putri bangsa ini...
Yang kebebasannya terlahir dari tubuh kalian yang terkoyak mati...

Dan Kalian adalah Pahlawan bangsa ini...
Karna kalianlah kami hirup udara segar negeri ini...

Maafkan kami yang tak tau bagaimana caranya berterimakasih...
Maafkan kami yang tumbuh menjadi penjajah bagi negeri kami sendiri...
Maafkan kami yang hanya mengenang kalian setahun sekali...
Maafkan kami juga yang selalu melewatkan kalian dari Doa yang kami ucapkan setiap hari...

Terimakasih telah mengajarkan kami tentang Bhineka Tunggal Ika...
Terimakasih telah mengajarkan kami mencintai negeri ini...
Terimakasih telah mengajarkan kami arti berkorban demi orang-orang yang dicintai...
Terimakasih telah mengukir senyuman kami sampai hari ini...

Kalianlah Darah yang terlupakan dari ingatan kami...
Tapi tidak dari tanah negeri ini...

Dan sekarang,,
Dengarlah teriakan lantang kami,,
Putra dan Putri dari negeri ini...

Kami bangga menjadi Rakyat Indonesia...!!!
Di negeri inilah kami dilahirkan,,
Dan di negeri inilah tempat kami nanti akan berpulang,,
Dengan,, atau tanpa Nama...

Terimakasih Pahlawan Bangsa...
Terimakasih Darah yang terlupakan...
Tugas kalian telah usai...

Beristirahatlah dengan tenang,,
Dalam haribaan Tuhan yang paling indah...

Salam hormat kami,,
Putra dan Putri Indonesia...

Jakarta, 10 november 2014
Penulis: Andria tama (crb komandan kodok)

Jumat, 03 Oktober 2014

Kampung ku benderang, Bocah-bocah tenggelam.

Ini lelucon kampung ku yang tak lagi padam...
Lampu-lampu penghias menerangi hitam air comberan...

Kampung ku benderang...
Di sulap zaman penuh kecanggihan...

Tapi tikus-tikus tetap saja berkeliaran...
Tak takut senapan kokang peluru tajam...
Otaknya cerdik dalam keabadian...

Ini lelucon kampung ku yang tak lagi padam...

Dan sekarang,,
Bocah-bocah malu telanjang di saat hujan...

Berbeda dengan zaman ku kecil...

Bocah-bocah tertawa riang...
Bermain hujan lari telanjang...
Kegembiraan yang khas dalam kepolosan...

Dan sekarang,,
Bocah-bocah asik nonton Televisi saat adzan Magrib berkumandang...

Berbeda dengan zaman ku kecil...

Bocah-bocah berhamburan...
Sesak kan ruang Masjid pinggir jalan...
Mengikuti ayah dan ibu yang berjalan di depan...

Dan sekarang,,
Bocah-bocah senang berbagi video porno...
Dari versi barat sampai versi jepang...
Atau kisah-kisah percintaan yang mereka tonton dalam deretan sinetron kejar tayang tadi malam...

Berbeda dengan zaman ku kecil...

Bocah-bocah senang berbagi cerita tentang pahlawan super pembela kebenaran...
Atau tokoh-tokoh fiksi lainnya,,
Pemberi motivasi yang membuat mereka berani bermimpi dan bersemangat...

Ya,, dalam puluhan film kartun animasi juga serial anak yang mereka tonton,,
Saat waktu senggang atau saat liburan akhir pekan...

Dan sekarang,,
Bocah-bocah hilang kesadaran...
Terlalu banyak menghisap rokok atau menenggak miras oplosan harga gocapan sampai seratus ribuan...

Berbeda dengan zaman ku kecil...

Bocah-bocah doyan jajanan murah depan gerbang sekolah...
Seperti bajigur, arum manis, es lilin sampai selendang mayang...

Ya,,
Ini memang lelucon kampung ku yang tak lagi padam...
Kemajuan zaman membuat kampung ku benderang...

Membuat ku dapat melihat dengan jelas...
Bahwa kampung ku telah berbeda sekarang...

Membuat ku dapat melihat dengan jelas...
Tentang kepolosan bocah-bocah yang di renggut paksa...

Oleh kemajuan zaman,,
Juga perilaku para orang dewasa yang tak lagi memperdulikan...

Dan sekarang LIHATLAH...!!!

Bocah-bocah mati tenggelam...
Di atas tanah kampung ku yang semakin benderang...

Jakarta, 3 oktober 2014
Penulis: Andria Tama (crb komandan kodok)

Kamis, 25 September 2014

Untuk Teman yang pulang kemarin sore.

Hari itu masih ku ingat...

Hari pertama kau menyapa...
Hari pertama kau ulurkan tangan mu...
Hari pertama kau bagi senyum mu...
Juga hari pertama kita saling berkomunikasi...

Hahahahaha...
Hari itu kita begitu kaku...
Mirip kanebo yang terlalu lama di jemur di terik matahari...

Dan tanpa kita sadari...
Sejak saat itu,,
Jiwa kita saling terhubung...
Kita telah menjadi teman...

Ya,, Teman...

Ikatan itu lantas ku abadikan dalam sajak kecil tanpa air mata...
Hanya ada tawa,,
Hanya ada canda...

Walau tak jarang salah satu dari kita menyebalkan...
Walau tak jarang kita saling bertengkar...

Aku hanya tak ingin kesedihan bersenyawa dalam sajak kecil ku...
Yang memang ku ciptakan untuk mu...
Ya,, untuk kita...
Teman...

Tapi sajak hanyalah sajak...
Tulisan sederhana dengan batas kadaluwarsa...
Bukan tulisan takdir yang selamanya berkuasa...

Akhirnya sajak ini pun bersedih...
Akhirnya sajak ini pun menangis...
Ya,, pada kemarin sore...

Saat kau baringkan lelah mu di bawah pepohonan surga yg rindang...
Dan kau pun tertidur begitu lelap...
Terlalu lelap,, hingga tak bisa untuk ku bangunkan...

Dan saat ini aku membuka sajak ini sendiri...

Tidak...
Aku tidak sendiri...
Di sini ada teman-teman ku...
Teman-teman mu juga...
Teman-teman kita...

Dalam sajak tertulis nama...

Hey...
Lihatlah...

Di situ ada nama ku...
Ada nama mu...
Juga ada nama teman-teman kita...

Biarpun kini kau telah pulang lebih dulu...
Aku tak kan pernah menghapus nama mu dari sajak kecil ku...
Tak akan pernah...

Karna tempat mu memang di sana...
Di antara nama ku,, dan nama teman-teman kita...

Jangan bersedih...

Tulisan takdir memang telah menghilangkan mu dari kedua mata kami,,
Mata teman-teman mu...
TAPI TIDAK DENGAN SEMUA KENANGAN TENTANG MU...

Sampai jumpa teman...
Di waktu dan tempat yang berbeda...

Selamat beristirahat kawan...
Di dalam istana Tuhan yang paling indah...

Salam rindu dari kami,,
Teman-teman mu...


Note: Tulisan ini ane dedikasikan buat temen SMP ane yg udah berpulang lebih dulu...

Buat Alm.MUKSIN juga buat Alm.DEBY SINTIA...
Semoga kalian berdua mendapat tempat paling nyaman di sisi ALLAH SWT...
Amin.

Jarkarta, 25 September 2014
Penulis: Andria Tama (crb komandan kodok)

Senin, 22 September 2014

Kehilangan.

Lagi...

Jiwa ku kehilangan dia...
Dia yang ku cinta...

Dia pergi membawa semua...
Semua yang ku kagumi pada dirinya...

Senyum,,
Canda,,
Tawa,,
Serta ketulusan hatinya...

Kini ku coba melangkah...
Melupakan semua tentangnya...

Namun di saat langkah ini terhenti,,
Terasa senyumnya masih menemani...

Jujur,,
Sulit bagi ku untuk melupakannya...

Meski raga ku tak bisa memeluknya...

Namun cinta ini membuat ku merasa dekat,,
Dan mampu untuk memeluk indahnya...

Andai dia mengerti apa yang ku rasa...

Meski jauh,,
Dia tak akan pernah hilang...

Karna senyumnya telah tertanam di dalam jiwa...

Satu janji ku ucap untuk dirinya...

Jikalau semua telah berubah...
Cintaku akan selalu sama untuknya...

Selamanya...



Penulis: Andria Tama (crb komandan kodok)
Note: tulisan waktu kelas 2 SMK

Minggu, 21 September 2014

Penggalan.

Lewat sajak ku ukir penat ku...

Biarkan tinta hitam bernyanyi...
Melantunkan semua isi...
Kosongkan hingga tak ada lagi berat...

Tak perlu menangis,,
Hidup ini penggalan mimpi dan kenyataan,,
Mengikis perlahan...

Untuk apa di tangisi..??

Lihat,,
Sajak ku jadi...!!!
Untuk malam ini...

Dan akan ku pamerkan pada anak matahari...
Esok pagi...

Ya,, esok pagi...


Jakarta, 21 september 2014
Penulis: Andria tama (crb komandan kodok)

Kamis, 04 September 2014

Dirimu Bagiku.

Aku mengagumi mu,,
sama seperti aku mengagumi cahaya bintang di pekatnya malam...

Cukup bagiku memandangi indahnya...

Aku tak mau berharap lebih...

Karna ku tau,,
selamanya kau takkan mungkin untuk ku raih...

Penulis: Andria Tama (crb komandan kodok)

Note: tulisan ane pas kelulusan SMP

Minggu, 27 Juli 2014

Kumandang Takbir.

Ketika Takbir Berkumandang...

Sajak ku masih berlumur dosa yang meradang...
Mengalir di sungai-sungai kecil yang melekat daging...

Ketika Takbir Berkumandang...

Aku tersadar,,
umur ku sepotong bambu rapuh yang terkoyak rayap...
Bukan laut lepas tak berpangkal pandang...

Ketika Takbir Berkumandang...

kaki ku keram,,
di depan persimpangan jalan...

Bingung,,
arah mana yang harus aku tuju..??

Dan Takbir terus Berkumandang...

Di saat Allah menyapa ku dengan ramah...
Di saat Allah menuntun ku perlahan...
Kembali pada jalan Ridho-NYA...

Ya Allah...

Aku hanya ciptaan-MU dengan banyak ingkar...
Aku hanya Hamba-MU dengan ribuan kata lupa...
Aku hanya makhluk-MU dengan balutan kain kemaksiatan...

Tapi ENGKAU memang Yang Maha Penyayang...
Tapi ENGKAU memang Yang Maha Pemaaf...
Tapi ENGKAU memang Yang Maha Pemberi Hidayah...

Kadang aku berfikir,,
jasad dan ruh ku mungkin terlalu Hina untuk ENGKAU sapa...

Tapi ENGKAU selalu menyadarkan ku di saat aku berjalan terlalu jauh...
Ya,, dari jalan Ridho-MU...

Terimakasih Ya Allah...
Atas segala Nikmat dan Rahmat-MU yang tak mungkin sanggup untuk aku tulis pada lembaran sajak-sajak kecil ku...

Terlalu banyak...
Terlalu Istimewa...

Ampuni Hamba Ya Allah...

Untuk semua Ingkar,,
untuk semua Lupa,,
juga untuk semua Kemaksiatan yang telah mendaging...

Dan di saat esok pagi datang...

Semoga ENGKAU Izinkan hamba untuk tetap bernafas...
Bersenyawa bersama Hamba-Hamba MU yang lain...

Menjadi Putih,,
Di antara Alunan merdu kumandang Takbir...


Jakarta, 28 juli 2014
Penulis: Andria tama (crb komandan kodok)

Rabu, 23 Juli 2014

Senyum getir Palestina untuk Dunia



Di atas penyembahan modernitas dan pengagungan idealisme liberal…

Di atas sendawa kenyang dan tawa riang anak-anak dunia…

Di atas kemesraan bangsa arab dan amerika di meja-meja makan malam…

Di atas cumbu manja simon peres dan pemimpin-pemimpin eropa…

Di atas kebisuan indonesia dan negara-negara berlabel syari’at islam…

Di atas idiotisitas perserikatan bangsa-bangsa dan autisitas Organisasi Islam Dunia…

Palestina berdiri sendiri dalam tangis dan cucuran air mata…

Terpekur dalam simbahan darah dan tusukan peluru…

Di saat dentuman peluru laknat jagal-jagal cast leads masih terdengar hafal di telinga…

Dunia masih belum juga menemukan nurani kemanusiaannya…

Label pemuja hak asasi manusia hanyalah semboyan kosong yang ada di kantong-kantong anak cucu amerika dan kroni-kroninya…

Dan palestina pun sendiri…

Berdiri tegak di antara kemahatololan badut-badut pemuja ketiak zionis…

Dan palestina pun berdiri…

Melululantakkan kemahasombongan putra-putri kera yang lahir dari rahim kerakusan dan di susui asi kezaliman…

“Biarlah kami sendiri,” kata generasi Shalahuddin Al Ayyubi itu…

“Cukuplah batu-batu intifadah ini yang menjadi teman setia kami membebaskan Al Aqsa”…

“Karna harga diri kami terlalu mahal jika di bayar dengan air mata”…

“Karna senyuman kami tak semurah tegukan coca-cola atau kekhusukkan kalian dalam berfacebook ria”…

Palestina,,

Bahkan indonesia yang baik hati pun sedikit hilang ingatan atas kebaikan putra mu…

Bukankah dulu Muhammad Amin Al Hussein yang lantang mengucap selamat pertama atas kemerdekaan negeri ini..??

Bukankah karna dia pula akhirnya gelombang dukungan bangsa-bangsa dunia membanjiri kemerdekaan negeri ini..??

Atau rasa-rasanya bahkan rakyat negeri ini pun sudah tak berselera mengingat keikhlasan uang lima juta warga gaqa atas gempa mengguncang bumi yogya…

Oh Palestina…

Di saat kami begitu lelap melewati sepertiga malam,,
Di sana kau tengah bercanda dengan kebiadaban badut-badut penghisap darah…

Di saat kami begitu lahap menikmati hidangan sarapan pagi,,
Di sana kau masih harus tiarap untuk melanjutkan hari-hari…

Kami yakin tidak banyak yang kau minta,,
Karena kau terlalu gagah untuk menjadi pengemis atas kemerdekaan mu…

Kami pun yakin tidak banyak yang kau harap,,
Karena kau terlalu mulia untuk meninakbobokan keimanan hanya demmi urusan perut…

Maafkan kami…

Maafkan kami yang hanya bisa membantumu lewat air mata…

Maafkan kami yang hanya bisa menolong mu dengan sisa uang yang ada di saku celana…

Maafkan kami yang hanya bisa mengingat mu saat ada kajian dan unjuk rasa…

Maafkan kami yang sering melewatkan nama mu dalam setiap bait doa-doa…

Allahummantsur Ikhwana Mujahiddina fi Filistin…

Allahummantsur Ikhwana Mujahiddina fi Filistin…

Allahummantsur Ikhwana Mujahiddina fi Filistin…
Penulis: Shalahuddin Umar

Minggu, 20 Juli 2014

Sebuah mimpi tentang mu.

Saat ku pandang beribu bintang langit,,
di gelap malam....

Ku lihat cahaya mu...

Dengan segenap jiwa,,
terbayang wajah mu...

Terasa hangat cintamu,,
yang terkhayal dalam fikir ku...

Walau tak ku sadari keberadaan mu...

Yang tertinggal hanya sebuah mimpi...

Tentang mu...


Penulis: Andria tama (crb komandan kodok)
*tulisan waktu kelas 3 SMP tahun 2006an

Kamis, 17 Juli 2014

Aku si ulat kecil itu.

Beberapa kupu-kupu terbang...
Menentang angin yang bernafas perlahan...

Pagi itu...
Ya,, pagi itu...

Di bawah senda gurau awan dan kabut...
Di atas bunga-bunga yang bermandi embun...

Sayapnya terlihat indah...
Terbang begitu bebas...

Membuat ku kagum...
Membuat ku iri...

Ya,, aku si ulat kecil itu...

Sayap ku...
Mana sayap ku..??

Sial..!!!
Tak kunjung tumbuh...

Kenapa lama sekali..??

Lihat kupu-kupu itu...
Mereka teman bermain ku,,
Dulu...

Entah berapa banyak waktu yang ku bunuh...

Di atas dedaunan hijau ini,,
bekal makan siang ku...

Aku ingin tidur...

Berselimut serabut-serabut rapuh...
Menjadi kepompong...

Hingga di suatu pagi ku temukan diri ku...
Terlahir menjadi Pribadi yang baru...

Menjadi kupu-kupu dengan sayap genap yang indah...
Lebih indah dari sayap teman-teman ku...
Ya,, di saat aku terbangun nanti....

Tapi mimpi tak juga jadi...

Ingin ku,,
tergadai waktu yang menggelinding lambat...

Anak-anak manusia tersenyum riang...
Melihat teman-teman ku terbang dengan sayap menawan...

Oh tidak...

Seorang ibu menghampiri ku...

Apa dia ingin bermain juga dengan ku..??
Si ulat kecil bertubuh gendut...

Tapi mengapa dia membawa sapu..??

EBUSEH..!!!
Ini buruk...

Jangaaannn...!!!

"PRAAAKK..!!!,"

"sayang,, kita maen di sana aja yuk,, banyak kupu-kupu.... di sini ada ulat bulunya,, ikh,, ntar badan kalian gatal-gatal loh,"

BEDEBAH..!!!

Badan ku sakit...
Tersungkur jatuh di atas tanah...
Di tampar sapu lidi manusia...

Huft...

Ya sudahlah...

Aku memang si ulat kecil itu...

Tak akan berharga sampai sayap-sayap rapuh ku benar-benar Tumbuh...


Jakarta, 18 Juli 2014
Penulis: Andria tama (crb komandan kodok)

Minggu, 13 Juli 2014

Pesta belum berakhir.

HIP HIP HURAAA..!!!

Pesta berakhir...

Ribuan kembang api keluar kandang...
Berlari liar melompati atap-atap stadion maracana...

Begitu riang dan berisik,,
Mengganggu tuan rumah yang baru saja tertidur...

HIP HIP HURAAA..!!!

Pesta berakhir...

Piala 4 tahunan hinggap lagi...
Di Ranting pepohonan tanah Jerman...

Rakyat bergembira...
Kebunnya panen besar...

HIP HIP HURAAA..!!!

Pesta berakhir...

Negara ku masih duduk di halaman parkir stadion...

Lagi asik ngobrol dengan negara lain...
Yang juga tak dapat tiket masuk...

HIP HIP HURAAA..!!!

Pesta berakhir...

Sebagian Teman-teman ku terbahak...
Melihat isi dompet tebal mendadak...

HIP HIP HURAAA..!!!

Pesta berakhir...

Tapi itu di sana...
Di benua Raksasa Adi daya...

Bukan di sebuah kota kecil Timur tengah...
Yang malam ini masih berpesta pora...

Bersulang Darah dan Doa...
melawan tentara Zionis penghisap darah...

Ya,,
Di sini Pesta belum berakhir...

Ada kebebasan yang harus direbut...
Ada nyawa ratusan anak yang harus di lindungi...

Ya,,
Di sini Pesta belum berakhir...

Di tengah kemeriahan Uforia Penutupan Piala dunia yang megah...

Ribuan nyawa rapuh Palestina Tumbuh bermahkotakan Duka...

Tikus Sawah.

Sawah ku penuh tikus rakus....

Menggerogoti padi menguning...

Beri saja keju agar sawah tak jadi hidangan lezat lagi...

Sial..!!

Kasih makan Keju minta nambah...

Perutnya karet...

Keju habis,,
sawah ku tak jadi panen....

Jakarta, 5 Juli 2014
Penulis: Andria Tama (crb komandan kodok)

Sabtu, 12 Juli 2014

Kupu-kupu kecil

Hey,,
Apa kau tau..??

Saat sayap mu mulai genap dan kau dapat terbang bebas dan bernyanyi riang...

Melihatmu seperti itu...
Aku Senang...

Terbanglah...
Kau ingin menggapainya bukan..??

Sinar pengantar Senja yang sangat kau sukai itu...

Tenang saja,,
Aku masih disini...

Masih mengawasimu dari kejauhan....

Tempat dimana ombak laut dengan lembut menyapa pasir daratan yg rapuh...

Ya,,
Dari tempat itulah aku akan tetap berdiri melihat mu...

Dan Jika kau menemukan daratan yang lebih indah di luar sana...

Aku harap...
Kau tidak melupakan daratan ini....

Pergilah dan bersenang senanglah...

Selamat jalan dan sampai berjumpa lagi di lain hari...

Kupu-kupu kecil ku...


Jakarta, 5 Juli 2014
Penulis: Andria tama (crb komandan kodok)

Kamis, 10 Juli 2014

Si Perokok.

Tentang pemasangan Gambar seram di kemasan rokok...??

Akh,,
hanya hiasan pasif...
Tak perlu di hiraukan...

Perokok ya perokok...

Ayo..!!
Masukkan lebih banyak lagi racun-racun itu ke dalam tubuh...

Toh masalah umur di tangan Tuhan...
Bukan di sebatang rokok seribuan...

Jangan melarangnya...
Paling-paling dia kentut...

Perokok ya perokok...

Ingat...!!
Rokok itu tidak haram...
Biarpun asapnya merugikan...

Coba lihat...

Dari pengemis sampai pejabat suka rokok...

Dari orang bejat sampai orang 'alim juga suka rokok...

Pria dan wanita bahkan bencong juga suka rokok...

Para orang dewasa sampai Lansia juga suka rokok...

Anak-anak kecil berseragam putih merah kemarin ku lihat juga sedang menghisap rokok...

Mengumpat di belakang warung...
Takut ketahuan orang tua katanya...

Padahal orang tua mereka juga perokok...

Bagi yang bukan perokok diam saja..!!

Tutup saja hidung kalian...

Atau kalian juga akan menikmati racun itu...

Ya,, namanya juga perokok...

Mulutnya asam...

Kasih dia sebatang rokok...

Dan kau akan di jadikannya teman...


Jakarta, 25 Juni 2014
Penulis: Andria Tama (crb komandan kodok)

Pesan dari Masa Depan.

Ibu ngomel-ngomel...
Memaksa ku bangkit dari tidur...

Tanpa mimbar lantas ia berkhotbah...

Tentang Ayam berkokok,,
juga tentang Sapi pembajak sawah...

Akh,,
untuk apa di dengar...
Pekak kuping karnanya...

Aku pindah,,
duduk di belakang rumah...

Matahari tergantung tegak lurus...
Mengintai tikus-tikus yang lagi asik menggerogoti uang rakyat...

Mata ku remang,,
menenggak dua botol miras oplosan tadi malam...

Mungkin efeknya masih tertinggal...

Angin membelai lembut...
aku tertidur lagi...

Lelaki baya datang...
Wajahnya kumal...
Jejak air mata terarsir di kerutan pipi...

Bajunya bau sampah...
Robekan-robekan terhias bercerita...

Tersedih dia berkata...

Riwayat teronggok di lembah Bukit-bukit sampah...

Istri mati tak ada biaya berobat...

Anak-anak meminta-minta di lampu merah...

Lantang ku tanya,,
Siapa kau..??!!!

Aku adalah Dirimu di masa depan..!!!
Jawabnya tegas...

Kemalasan membuat ku lebur...

Kelakuan membuat ku tak di hargai orang...

Mulut terjejal waktu yang menjadi Bangkai...

Aku adalah dirimu di masa depan...

Tolong aku,,
usir semua setan yang bersemayam di hati sekarang...
Ubah juga buruknya sifat...

Aku tak ingin tetap menjadi aku...

Tolong aku,,
Ubah aku jadi berharga...

Jeritnya mengiba...

Lelaki baya itu...
Perlahan sosoknya hilang terselimut gelap...

Meninggalkan ku dalam tanya...

Entah fakta atau fiksi,,
otak ku tak bisa mencerna...

Ibu kembali berteriak,,
aku terbangun kaget...

Syukurlah hanya mimpi...

Ku lihat langit tetap biru...

Tidak,,
tadi itu bukan sekedar mimpi siang bolong...
Pikirku menggugat...

Apa Mungkin itu Pesan...??

Agar aku merubah semua sifat buruk ku..??

Ya,,
itu adalah sebuah Pesan...

Ya,,
itu memang pesan...

Pesan untuk ku,,
Dari diri ku di Masa Depan....


Jakarta, 30 Mei 2014
Penulis: Andria Tama (crb komandan kodok)

Selasa, 08 Juli 2014

Langit mu menangis lagi.

Ku lihat dari kejauhan...

Tanah mu basah lagi...

Langit itu,,
masih tergantung murung di atasnya...

Ku lihat dari kejauhan...

Anak-anak kecil tertidur lagi...
Tersenyum untuk sebuah kebebasan...

Begitu lelap...
Hiraukan waktu yang berguling lambat...

Ku dengar dari kejauhan...

Lagu kesedihan itu di putar lagi...

Mengiringi pasukan rudal riang menari,,
di atas tanah mu...

Sampai akhirnya mereka berjatuhan...

Hancurkan tanah mu yang basah...
Merenggut mimpi ribuan ayah...

Ku lihat dari kejauhan...

Seorang ibu menangis memeluk anak perempuannya yang belum terlelap.

Bersembunyi di antara reruntuhan gedung...

Sang ibu lalu berdongeng,,
tentang sebuah tempat yang indah dan damai...

Ya,, Kepada anak perempuannya...
Ya,, kepada buah hatinya tercinta...

Dongeng belum usai...
Puluhan rudal berjatuhan lagi...

Kapal pesiar datang...

Menjemput sang ibu dan anak perempuannya untuk pulang...


Jakarta, 7 juli 2014
penulis: Andria tama (crb komandan kodok)

Senin, 07 Juli 2014

Tentang 9 juli 2014.

Bulan ini bulan pemilu...

HORE...!!!
Para penguasa galau,, terpaksa lelang kursi harga tinggi...

HORE...!!!
Komplotan maling rogoh dompet lagi...
Ambil duit jambretan malam tadi...

HORE...!!!
Rakyat kecil di suguhi makanan-makanan enak...
Makan Sepuasnya sampai muntah karna kekenyangan...

Bulan ini bulan pemilu...

Menyebalkan...!!!
Tolong semprotkan pengharum ruangan...!!!
Hidung ku tak kuat mencium bau bangkai yang di lemparkan para Simpatisan...

Menyebalkan...!!!
Pekak telinga,,
mendengar para kandidat bernyanyi lagu Padamu Negeri...
Suaranya Fals...

Menyebalkan...!!!
Teman ku tak saling sapa karna beda nomor pilih...

Ya,, bulan ini bulan pemilu...

Mencari nahkoda baru untuk tanah negeri ku...

Ya,, bulan ini bulan pemilu...

Tak ingin tanah ku jadi papan catur lagi...
Dimana Pion kecil selalu jadi Korban pertama...
Memperjuangkan Janji fatamorgana Pemerintah dan Raja...

Ya,, bulan ini bulan pemilu...

Dan 9 juli 2014...

Semoga hitam jari tak hanya menjadi hiasan pasif tanpa oasis...

Senin, 02 Juni 2014

Celoteh Bocah-Bocah Purnama

Ku lihat sajak langit jelas tertulis...

Bintang-bintang manja saling berkedip...

Mengharap sang ratu malam tersenyum melirik...

Malam minggu,,
langit tetap berwarna kopi pahit...
Hanya terasa berbeda dalam penyuguhannya...

Aku duduk menyandar reotnya tiang gubuk...

Hanya aku,,
tak berkawan...

Iseng,,
ku aduk-aduk secangkir kenangan masa lalu...

Di sini sedekade dulu,,
malam minggu selalu terangi kampung ku...

Sebatang kara..??
tak pernah merasuk jiwa...

Bulan pun tersenyum,,
menerangi bocah-bocah riang bermain...

Kami anak Negeri saat itu...

Lompat tali,, congklak,, petak umpet,, petak gunung dan sebagainya...
Adalah permainan terbaik kami...

Nenek moyang yang mewariskannya...
Dan kami,,
menikmati bersama...

Merasakan apa itu bahagia tanpa kemewahan...

Kesederhanaan yang mengajarkan...

Langit tetap berwarna kopi pahit...
Hanya terasa berbeda dalam penyuguhannya...

Aku masih menyandar tiang gubuk yang semakin reot...

Semua telah jauh berubah memang...

Mainan import bermerek dan canggih membuat bocah-bocah Amnesia...
Lupa teman lupa makan...

Riang bocah-bocah purnama hanya tinggal cerita sekarang...

Mati termakan jaman...
Terbuang ke dalam selokan...

Nenek moyang menangis lirih...

Dan aku,,
tetap sendiri...
menikmati merdu kumbang bernyanyi...


Penulis: Andria tama (crb komandan kodok)
Jakarta, 24 mei 2014


  • Note: untuk mengenang masa kecil di tahun 90an

Sabtu, 24 Mei 2014

Sajak Untuk Sang Sastrawan Reformasi

Pakaian kusut teman perang yang setia...
Senjata terkuat terbuat dari kayu rapuh berukuran 4cm...

Di otaknya terlukis semesta alam...
Pandangnya menelusuk jauh hingga ke dalam kerongkongan...

Dia tak canggung untuk bernafas,,
meski udara sesak karna jutaan Pabrik...

Badannya kurus,,
tak dapat jatah makan dari raja-raja...
Kulitnya kering,,
Terpanggang tungku raksasa Bima sakti...

Selalu berbicara lantang di sambut gonggongan anjing penjaga...
Pengangguran abadi dalam terang...

Seniman...
Senyum mu terpahat dalam comberan sekarang...

Kau lihat...???
Mengingat mu hanya sedikit orang...
Tetapi kau tetap tertawa riang dalam comberan...

Selalu bersyukur dengan pemberian Tuhan...

Waktu akan membantumu mengalir...
Dari comberan ke kali...
Dari kali ke Sungai hingga ke Laut kelak...

Membuat mu tak lagi Hitam melainkan Biru menenangkan...

Menikmati apa itu bebas,,
seperti yang selalu kau khayal...

Seniman...
Kau tak mati...
Kau hidup,,
Ya,, kau hidup...

Karya-karya indah yang kau cipta,,
memberikan mu nyawa...

Seniman...
Di dahi mu terpancar cahaya...
Kalau boleh,,
aku ingin mengikuti mu dalam gelap...

Terimakasih,,
karya mu menginspirasi ku...
Berlayarlah,,
Titip salam ku untuk Rembulan yang merona malam nanti...


 Penulis: Andria tama (crb komandan kodok)
Jakarta, 25 mei 2014


  • Note: Tulisan ini saya dedikasikan untuk para seniman Reformasi. khususnya untuk sang Sastrawan Widji Thukul. Karyanya yang sederhana dan penuh makna,, benar-benar Menyentuh.