Selasa, 25 November 2014

Sekarang aku mengerti..., GURU.

Pagi itu di ruang yang sama..
Aku masih mengingat riwayat yang tertinggal di sana..

Tempat itu...
Jendela, dinding, daun pintu, juga papan tulis yang berdebu..
Suasana akrab bagiku..

Meja angkuh yang berdiri paling depan,
memimpin puluhan meja lainnya, berbaris rapi mengikuti..

Itu adalah meja seseorang yang menyebalkan untuk ku..
Orang yang membosankan..
Pelajaran dan pelajaran, pemberi perintah ini itu dan sebagainya..
Terkadang juga menghukum ku..
Karna tak mengerjakan tugas, datang terlambat atau bermain saat jam belajar..
Benar-benar menyebalkan..

Ya..., itu adalah meja mu, GURU..

Sejak itu aku coba menjauh..
Menempatkan diriku pada meja terakhir yang berdiri di sudut ruang..

Agar aku bebas..
Agar aku tak terkurung oleh ingin mu..
Tetapi tetap saja aku bisa melihat mu menempati meja angkuh itu..
Tetapi tetap saja aku bisa mendengar suara mu lantang memecah pendengaran ku..

Ini menyiksa..
Tapi aku tak ingin berhenti di sini..
Ada senyuman kedua orang tua yang harus aku lindungi..
Akan ku tahan semua sampai tiba hari kelulusan..
Semua hal yang menyebalkan darimu..., GURU..

Dan hari itu pun tiba..
Setelah ini, aku tidak lagi bertemu dengan mu..., GURU..
Aku senang..

Hari-hari berlalu setelah itu..
Kesuksesan hinggap dalam hidupku..

Aku bisa membangun rumah untuk kedua orang tua..
Meski sederhana dan tak mewah, tapi itu cukup membuat senyum keduanya merekah..
Aku juga bisa mencukupi keperluan hidupku sendiri..
Tak perlu ngutang sana ngutang sini, hanya sekedar untuk bisa makan esok pagi..

Dan kemarin aku menghadiri Reuni sekolah..
Aku melihat mu tersenyum menyapa,
menanyakan keadaan lalu memberikan selamat atas kesuksesan ku..
Ak bisa merasakan betapa tulusnya senyuman itu..
Hal yang tak pernah aku berikan untuk mu..., GURU..

GURU..., Apa kau tau?
Senyuman mu itu seperti menampar ku..
Menyadarkan kebodohan ku menilai mu..

Dan sekarang aku mengerti..., GURU..

Ingin mu sederhana,
hanya ingin melihat ku dan murid-murid mu yang lain tersenyum meraih cita-cita..
Walau terkadang kau harus menanggung kebencian dari beberapa murid yang tak menyukai mu..

Bahasa inggris, bahasa indonesia, matematika dan pelajaran lainnya..
Tanpa mu, aku hanya almamater buta..
Dan kesuksesan yang ada, hanyalah mimpi semata..

Terimakasih atas usaha mu yang tak pernah menyerah untuk menjangkau ku, ketika aku mencoba menjauh..
Terimakasih tetap tersenyum untuk ku, meski aku tak pernah membagi hal yang sama kepada mu..

Ilmu adalah Cahaya..
Terimakasih telah memberikan Cahaya itu dalam hidup ku..

Andai saja dulu, aku bisa melihat mu dari sudut pandang yang berbeda,
dari sisi yang lebih baik..

Maafkan aku yang buruk menilai mu..
Maafkan aku yang hanya mengunjungi mu ketika acara Reuni ada..
Dan maafkan aku yang tak bisa membalas semua jasa-jasa mu..

Tak peduli seberapa nakalnya murid-murid mu..
Tak peduli seberapa tak sukanya mereka terhadap mu..
Kau tetap menjangkau mereka..
Kau tetap membagi cahaya mu untuk mereka..
Dan kau tetap tersenyum kepada mereka..

Bahkan ketika pemerintah Negara mengacuhkan kesejahteraan hidupmu pun,
kau tetap melakukan hal yang sama..

Kau percaya,
ketika murid-murid mu berhasil dan tersenyum meraih kesuksesan mereka kelak,
itu adalah kebahagiaan juga kebanggaan bagi dirimu.

Apa yang kau berikan dan apa yang telah kau lakukan membuat aku mengerti arti seorang GURU..

"Pahlawan Tanpa Tanda Jasa".
Ya..., penghargaan itu memang pantas di berikan untuk mu..

Dan GURU..
Tulisan ini hanyalah ungkapan sederhana yang ku buat untuk mu..
Sebagai tanda..., TERIMAKASIH KU...


Jakarta, 25 november 2014
Penulis: Andria tama (crb komandan kodok)

1 komentar:

  1. So sad

    Kunjungi Blog gue rezeki-iklanku.blogspot.com (klik salah satu iklannya sob) dan kata-rifal.blogspot.com

    BalasHapus