Minggu, 06 Desember 2015

Tragedi Metromini dan Kopaja


Lagi....
Catatan hitam tergores lagi.

Di dinding-dinding dekil angkutan Metromini.
Yang ringsek tadi pagi.
Ya ... Tadi pagi.
Di atas perlintasan rel kereta api.

Hancur!
Benar-benar hancur!

Hanya sisakan puing!
Darah!
Kenangan pahit!
Juga puisi kehilangan yang pekik!

Siapa yang harus di penjara?!
... Sedang sang sopir juga tewas, bersama.

Ingat!
Ini bukan kali pertama!

Sial!

Apa belum cukup tragedi yang lalu?
Hingga harus memancingnya kembali?

Membuat haru!
Ciptakan pilu!

Belum sempat hari berganti.
Sebuah Kopaja berulah ... Lagi.
Terguling di depan halte bus.

Satu pejalan kaki Tewas!
Di tabrak Kopaja.
Ganas!

Mana sang sopir?
Mana si kernet?

BANGSAT!
Mereka kabur!

Kejar!
Lalu hajar!
Biar mereka berdua kapok.

Main handphone saat berkendara?
Hey! Otak kalian ada di mana?!
Dasar GUOBLOK!

Oh, Sopir Metromini....
Oh, Sopir Kopaja....
Sampai kapan nyawa penumpang terus kalian gadai?

Empat Ribu Rupiah?
... Hey! Nyawa kami tak semurah itu!

Kami mohon...,
Berhentilah Ugal-ugalan.
Lalu patuhi peraturan di jalan.

Atau kami akan teriak,
BUBARKAN!


Jakarta, 7 Desember 2015
Penulis: Andria Tama (crb komandan kodok)