Rabu, 15 April 2015

Hingga Akhir Waktu.

Aku melihat mu menangis malam ini. Di bawah hamparan bintang dan senyuman sang bulan. Aku mengerti perasaan mu. Hal menyakitkan memang. Ya ... apa yang kamu hadapi saat ini.

Akh! Seandainya dari awal kamu memilih aku. Aku tak kan menodai dan mencampakkan mu seperti apa yang ia lakukan terhadap mu.

Tapi aku tak menyalahkan mu. Ini salah ku yang tak bisa menjadi apa yang kamu mau. Ini salah ku yang tak bisa menjanjikan bahagia kepada mu.
Sehingga pada akhirnya kamu memilih menolak ku dan pergi bersamanya.

Jujur, Aku kecewa!

Sejak itu aku mencoba melupakan mu. Berusaha mengusir mu dari hati juga ingatan ku.
Tapi ketika semua ku rasa percuma ... Aku pun tersadar ... BAHWA RASA CINTAKU LEBIH BESAR DARI RASA BENCIKU TERHADAP MU!

Aku ... Ya ... Aku.
Biarkan aku saja yang bertanggung jawab atas apa yang menimpa mu. Calon bayimu itu ... Ia berhak memiliki ayah.

"Bu ... Semua teman-temanku mempunyai ayah ... Apa aku juga punya ayah? Jika punya ... Lalu dimana ayah berada, bu?"

Kelak kamu tak harus mendengar pertanyaan seperti itu dari buah hati mu tercinta.
Jadi, biarkan aku menjadi ayah bagi anakmu.

Ku mohon tersenyumlah.
Hapus air matamu. Genggam janjiku. Dan biarkan aku membuka lembaran baru dalam hidup mu.
Meski sederhana ... Tapi aku akan selalu berusaha semampu yang aku bisa. Untuk menulis cerita kita, menjadi kisah yang lebih berharga.

Tak perlu sungkan terhadap ku. Buang rasa bersalahmu jauh-jauh.
Karna aku mencintaimu dari semua yang ada padamu. Dari lebihmu ... juga dari kurangmu. ^^-

*****

Tak ada kata sesal terucap.
Cinta ini meyakinkan ku untuk selamanya mencintai mu.

Walau kau tak seputih mawarku yang dulu.

Sesungguhnya cinta ini masih menunggu mu.
Untuk berada di samping ku ...
Hingga Akhir Waktu.


Jakarta, 15 april 2015
Penulis: Andria tama (crb komandan kodok)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar