Kamis, 19 Februari 2015

Masih banyak Bintang di langit.

Mengapa kau tangisi Bintang mu yang telah pergi?
Setelah itu kau benci langit malam yang cerah ini.

Apa begitu berhargakah bintang yang kau kagumi?


Ya, aku mengerti.
Aku juga pernah merasakan hal yang sama.

Aku benci ketika malam mengusir matahari dengan angkuhnya.
Aku benci ketika tirai langit berubah pekat.
Membuat ku harus bergelut dengan gelap.

Sampai pada akhirnya aku menemukan cahaya kecil yang indah.
Sama seperti mu,
aku memanggilnya Bintang.

Ia menyapa ku dalam gelap,
dengan senyumnya yang merona.
Sejak itu aku mulai menyukai malam,
sekedar untuk melihat cahayanya yang indah.
Hahahahaha...

Tapi pada suatu malam aku tak melihatnya tersenyum lagi,
dia menghilang.
Bintang yang aku sukai telah pergi.
Membuat ku kembali membenci malam.

Tapi itu tak berlangsung lama.
Ketika aku palingkan penglihatan ku pada sudut berbeda di langit malam yang pekat.

Aku melihat hamparan bintang lainnya dengan cahaya merona.
Aku lihat mereka tersenyum padaku.
Meski tak seindah bintang ku yang pertama,
Tapi begitu ramah.

Dan aku pun tersadar.
Selama ini aku hanya terlalu tertuju pada apa yang aku suka,
hingga melewatkan apa yang seharusnya aku sapa.
Bintang-bintang yang ku lihat saat ini,
itu cukup menjadi alasan bagiku untuk tidak lagi membenci malam.

Tuhan menciptakan begitu banyak bintang di langit.
Pilih satu yang menurut mu indah,
Lalu kagumilah sesuka mu.
Tapi ketika bintang itu pergi,
jangan terlalu larut dalam sedih.

Kau hanya perlu memalingkan penglihatan mu pada bintang lain yang menunggu mu untuk memilihnya.

Pada akhirnya kamu akan mengerti,
mengapa Tuhan menciptakan begitu banyak bintang di alam semesta ini.
^p^

Jakarta, 19 februari 2015
Penulis: Andria tama (crb komandan kodok)

2 komentar:

  1. Terimakasih udah berkunjung...

    Udah saya kunbal gan...
    Tapi di blog anda gx ada apa2,, jadi saya kunjungi web anda saja...
    Hehehehe....

    Keren webnya,, banyak info bermanfaat...

    BalasHapus