Senin, 02 Juni 2014

Celoteh Bocah-Bocah Purnama

Ku lihat sajak langit jelas tertulis...

Bintang-bintang manja saling berkedip...

Mengharap sang ratu malam tersenyum melirik...

Malam minggu,,
langit tetap berwarna kopi pahit...
Hanya terasa berbeda dalam penyuguhannya...

Aku duduk menyandar reotnya tiang gubuk...

Hanya aku,,
tak berkawan...

Iseng,,
ku aduk-aduk secangkir kenangan masa lalu...

Di sini sedekade dulu,,
malam minggu selalu terangi kampung ku...

Sebatang kara..??
tak pernah merasuk jiwa...

Bulan pun tersenyum,,
menerangi bocah-bocah riang bermain...

Kami anak Negeri saat itu...

Lompat tali,, congklak,, petak umpet,, petak gunung dan sebagainya...
Adalah permainan terbaik kami...

Nenek moyang yang mewariskannya...
Dan kami,,
menikmati bersama...

Merasakan apa itu bahagia tanpa kemewahan...

Kesederhanaan yang mengajarkan...

Langit tetap berwarna kopi pahit...
Hanya terasa berbeda dalam penyuguhannya...

Aku masih menyandar tiang gubuk yang semakin reot...

Semua telah jauh berubah memang...

Mainan import bermerek dan canggih membuat bocah-bocah Amnesia...
Lupa teman lupa makan...

Riang bocah-bocah purnama hanya tinggal cerita sekarang...

Mati termakan jaman...
Terbuang ke dalam selokan...

Nenek moyang menangis lirih...

Dan aku,,
tetap sendiri...
menikmati merdu kumbang bernyanyi...


Penulis: Andria tama (crb komandan kodok)
Jakarta, 24 mei 2014


  • Note: untuk mengenang masa kecil di tahun 90an

Tidak ada komentar:

Posting Komentar