Sabtu, 24 Mei 2014

Sajak Untuk Sang Sastrawan Reformasi

Pakaian kusut teman perang yang setia...
Senjata terkuat terbuat dari kayu rapuh berukuran 4cm...

Di otaknya terlukis semesta alam...
Pandangnya menelusuk jauh hingga ke dalam kerongkongan...

Dia tak canggung untuk bernafas,,
meski udara sesak karna jutaan Pabrik...

Badannya kurus,,
tak dapat jatah makan dari raja-raja...
Kulitnya kering,,
Terpanggang tungku raksasa Bima sakti...

Selalu berbicara lantang di sambut gonggongan anjing penjaga...
Pengangguran abadi dalam terang...

Seniman...
Senyum mu terpahat dalam comberan sekarang...

Kau lihat...???
Mengingat mu hanya sedikit orang...
Tetapi kau tetap tertawa riang dalam comberan...

Selalu bersyukur dengan pemberian Tuhan...

Waktu akan membantumu mengalir...
Dari comberan ke kali...
Dari kali ke Sungai hingga ke Laut kelak...

Membuat mu tak lagi Hitam melainkan Biru menenangkan...

Menikmati apa itu bebas,,
seperti yang selalu kau khayal...

Seniman...
Kau tak mati...
Kau hidup,,
Ya,, kau hidup...

Karya-karya indah yang kau cipta,,
memberikan mu nyawa...

Seniman...
Di dahi mu terpancar cahaya...
Kalau boleh,,
aku ingin mengikuti mu dalam gelap...

Terimakasih,,
karya mu menginspirasi ku...
Berlayarlah,,
Titip salam ku untuk Rembulan yang merona malam nanti...


 Penulis: Andria tama (crb komandan kodok)
Jakarta, 25 mei 2014


  • Note: Tulisan ini saya dedikasikan untuk para seniman Reformasi. khususnya untuk sang Sastrawan Widji Thukul. Karyanya yang sederhana dan penuh makna,, benar-benar Menyentuh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar